Minggu, 21 Oktober 2018

Asmaul Husna


A. Asmaul Husna
1. Pengertian Asmaul Husna
Asmaul Husna adalah nama-nama yang baik bagi Allah yang jumlahnya adalah 99 nama. Sebagai orang yang beriman, kita selalu dianjurkan untuk menyebut-Nya. Hal ini tertera dalam hadis yang menyebutkan tentang Asmaul Husna berbunyi sebagai berikut.
اِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمَامَنْ حَفَظَهَادَخَلَ الْجَنَّةَ وَاِنَّ اللهَ وِتْرٌ وَيُحِبُّ الْوِتْرَ     (رواه ابن ماجه)
Artinya: Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama. Barang siapa menghapalnya (dengan meyakini kebenarannya) ia masuk surga. Sesungguhnya Allah Maha ganjil (tidak genap) dan senang sekali pada sesuatu yang ganjil." (HR Ibnu Majah).
Surah Al lkhlas merupakan sebuah surah dalam Al Quran yang berisi ketegasan dan kesaksian tauhid kepada Allah swt. Di dalamnya sifat keesaan Allah dan beberapa Asmaul Husna-Nya benar-benar menjadi titik sentral. Konsekuensinya adalah bahwa Allah tidak akan menerima dosa yang bernama syirik atau menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain. Rasulullah Saw bersabda.
اِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمَامَنْ حَفَظَهَادَخَلَ الْجَنَّةَ وَاِنَّ اللهَ وِتْرٌ وَيُحِبُّ الْوِتْرَ     (رواه ابن ماجه)
Artinya: "Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama. Barangsiapa menghafalnya (dengan meyakini akan kebenarannya), is masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Mahaganjil (tidak genap) dan senang sekali pada sesuatu yang ganjil."(HR Ibnu Majah).
Adapun Asmaul Husna sebagaimana difirmankan Allah swt. dalam Al Quran dan disabdakan oleh Rasullullah saw. jumlahnya ada 99, yaitu sebagai berikut.
No
Asmaul Husna
Artinya
Ayat Rujukan
1
Ar Rahman
Maha Pemurah
(QS Al Fatihah: 3)
2
Ar Rahim
Maha Pengasih
(QS Al Fatihah: 3)
3
Al Malik
Maharaja
(QS Al Mu'minun: 116)
4
Al Quddus
Mahasuci
(QS Al Jumuah: 1)
5
As Salam
Mahasejahtera
(QS Al Hasyr: 23)
6
Al Mu'min
Maha Terpercaya
(QS Al Hasyr: 23)
7
Al Muhaimin
Maha Memelihara
(QS Al Hasyr: 23)
8
Al `Aziz
Mahaperkasa
(QS Ali Imran: 62)
9
Al Jabbar
Kehendaknya Tak Dapat Diingkari
(QS Al Hasyr: 23)
10
Al Mutakabbir
Memiliki Kebesaran
(QS Al Hasyr: 23)
11
Al Khaliq
Maha Pencipta
(QS Ar Ra'd: 16)
12
Al Bari'
Mengadakan dari Tiada
(QS Al Hasyr: 24)
13
Al Musawwir
Membuat Bentuk
(QS Al Hasyr: 24)
14
Al Gaffar
Maha Pengampun
(QS Al Baqarah: 235)
15
Al Qahhar
Mahaperkasa
(QS Ar Ra'd: 16)
16
Al Wahhab
Maha Pemberi
(QS Ali Imran: 8)
17
Ar Razzaq
Maha Pemberi Rezeki
(QS Az Zariyat: 58)
18
Al Fattah
Maha membuka (hati)
(QS Saba: 26)
19
Al 'Alim
Maha Mengetahui
(QS Al Baqarah: 29)
20
Al Qabid
Maha Pengendali
(QS Al Baqarah: 245)
21
Al Basit
Maha Melapangkan
(QS Ar Ra'd: 35)
22
Al Khafid
Maha Merendahkan
(HR At Turmuzi)
23
Ar Rafi'
Maha Meninggikan
(QS Al An'am: 83)
24
Al Mu'iz
Maha Terhormat
(QS Ali Imran: 26)
25
Al Muzill
Maha Menghinakan
(QS Ali Imran: 26)
26
As Sami'
Maha Mendengar
(QS Al Isra: 1)
27
Al Basir
Maha Melihat
(QS Al Hadid: 4)
28
Al Hakam
Maha Memutuskan Hukum
(QS Al Mu'min: 48)
29
Al `Adl
Maha adil
(QS AI An'am: 115)
30
Al Latif
Maha lembut
(QS Al Mulk: 14)
30
Al Khabir
Maha Mengetahui
(QS Al An'am: 18)
32
Al Halim
Maha Penyantun
(QS Al Baqarah: 235)
33
Al `Azim
Maha agung
(QS Asy Syura: 4)
34
Al Gafur
Maha Pengampun
(QS Ali lmran: 89)
35
Asy Syakur
Maha Menerima Syukur
(QS Fatir: 30)
36
Al `Aliyy
Maha tinggi
(QS An Nisa: 34)
37
Al Kabir
Maha besar
(QS Ar Ra'd: 9)
38
Al Hafiz
Maha Penjaga
(QS Hud: 57)
39
Al Mugit
Maha Pemelihara
(QS An Nisa: 85)
40
Al Hasib
Maha Pembuat Perhitungan
(QS An Nisa: 6)
41
Al Jalil
Maha luhur
(QS Ar Rahman: 27)
42
Al Karim
Maha mulia
(QS An Naml: 40)
43
Ar Raqib
Maha Mengawasi
(QS Al Ahzab: 52)
44
Al Mujib
Maha Mengabulkan
(QS Hud: 61)
45
Al Wasi'
Maha luas
(QS Al Baqarah: 268)
46
Al Hakim
Maha bijaksana
(QS Al An'am: 18)
47
Al Wadud
Maha Mengasihi
(QS Al Buruj: 14)
48
AI Majid
Maha mulia
(QS Al Buruj: 15)
49
Al Ba'is
Maha Membangkitkan
(QS Yasin: 52)
50
Asy Syahid
Maha Menyaksikan
(QS Al Maidah: 117)
51
Al Haqq
Maha benar
(QS Taha: 114)
52
Al Wakil
Maha Pemelihara
(QS Al An'am: 102)
53
Al Qawiyy
Maha kuat
(QS Al Anfal: 52)
54
Al Matin
Maha kokoh
(QS Az Zariyat: 58)
55
Al Waliyy
Maha Melindungi
(QS An Nisa: 45)
56
Al Hamid
Maha Terpuji
(QS An Nisa: 31)
57
Al Muhsi
Maha Menghitung
(QS Maryam: 94)
58
Al Mubdi
Maha Memulai
(QS AI Buruj: 13)
59
Al Mu'id
Maha Mengembalikan
(QS Ar Rum: 27)
60
Al Muhyi
Maha Menghidupkan
(QS Ar Rum: 50)
61
Al Mumit
Maha Mematikan
(QS Al Mu'min: 68)
62
Al Hayy
Maha hidup
(QS Taha: 111)
63
Al Qayyum
Maha mandiri
(QS Taha: 11)
64
Al Wajid
Maha Menemukan
(QS Ad Duha: 6-8)
65
Al Majid
Maha Mulia
(QS hud: 73)
66
Al Ahad
Maha Esa
(QS Al lkhlas: 1)
67
Al Wahid
Maha Tunggal
(QS Al Baqarah: 133)
68
As Samad
Maha Dibutuhkan
(QS Al Ikhlas: 2)
69
Al Qadir
Maha kuat
(QS Al Baqarah: 20)
70
Al Muqtadir
Maha Berkuasa
(QS Al Qamar: 42)
71
Al Mugaddim
Maha Mendahulukan
(QS Qaf: 28)
72
Al Mu'akhkhir
Maha Mengakhirkan
(QS Ibrahim: 42)
73
Al Awwal
Maha Permulaan
(QS Al Hadid: 3)
74
Al Akhir
Maha akhir
(QS Al Hadid: 3)
75
Az Zahir
Maha nyata
(QS Al Hadid: 3)
76
Al Batin
Maha gaib
(QS Al Hadid: 3)
77
Al Wali
Maha Memerintah
(QS Ar Ra'd: 11)
78
Al Muta'ali
Maha tinggi
(QS Ar Ra'd: 9)
79
Al Barr
Maha dermawan
(QS At Tur: 28)
80
At Tawwab
Maha Penerima Tobat
(QS An Nisa: 16)
81
AI Muntagim
Maha Penyiksa
(QS As Sajadah: 22)
82
Al 'Afuww
Maha Pemaaf
(QS An Nisa: 99)
83
Ar Rauf
Maha Pengasih
(QS Al Baqarah: 207)
84
Malik Al Mulk
Maha Penguasa Kerajaan
(QS Ali Imran: 26)
85
Zul Jalal wa Al Ikram
Maha Pemilik Keagungan dan Kemuliaan
(QS Ar Rahman: 27)
86
Al Mugsit
Maha adil
(QS An Nur: 47)
87
Al Jami'
Maha Pengumpul
(QS Saba: 26)
88
Al Ganiyy
Maha kaya
(QS Al Baqarah: 267)
89
Al Mugni
Maha Mencukupi
(QS An Najm: 48)
90
Al Mani'
Maha Mencegah
(HR At Turmuzi)
91
Ad Darr
Maha Pemberi Derita
(QS Al An'am: 17)
92
An Nafi'
Maha Pemberi Keman-faatan
(QS Al Fath: 11)
93
An Nur
Maha Bercahaya
(QS An Nu 35)
94
Al Hadi
Maha Pemberi Petunjuk
(QS Al Hajj: 54)
95
Al Badi'
Maha Pencipta
(QS AI Baqarah: 117)
96
Al Baqi
Maha kekal
(QS Taha: 73)
97
Al Waris
Maha Mewarisi
(QS Al Hijr: 23)
98
Ar Rasyid
Maha pandai
(QS Al Jin: 10)
99
As Sabur
Maha sabar
(HR At Turmuzi)

B. Contoh Asmaul Husna
a. Al-Karim
Pengertian Al-karim
1)        Secara bahasa, al-karim mempunyai arti Yang Mahamulia, Yang Maha Dermawan atau Yang Maha Pemurah. Secara Istilah, al-Karim diartikan bahwa Allah Swt. Yang Mahamulia lagi Maha Pemurah yang memberi anugerah atau rezeki kepada semua makhluk-Nya. Dapat pula dimaknai sebagai Zat yang sangat banyak memiliki kebaikan, Maha Pemurah, Pemberi Nikmat dan Keutamaan, baik ketika diminta maupun tidak.
Al-Karim dimaknai Maha Pemberi karena Allah Swt. senantiasa memberi, tidak pernah terhenti pemberian-Nya. Manusia tidak oleh berputus asa dari kedermawanan Allah Swt. Jika miskin dalam harta, karena kedermawanan-Nya tidak hanya dari harta yang dititipkan melainkan meliputi segala hal.
Manusia yang yang diberikan harta melimpah maupun tidak berharta dan dermawan hendaklah tidak sombong jika telah memiliki sifat dermawan karena Allah Swt. tidak menyukai kesombongan. Dengan demikian, bagi orang dianugrahi harta oleh Allah Swt., keduanya harus bersyukur kepada-Nya karena orang yang miskin pun telah diberikan nikmat selain harta.

2)        Maha Pemberi Maaf
Al-Karim juga dimaknai Yang Maha Pemberi Maaf karena Allah Swt. memaafkan dosa para hamba yang lalai dalam menunaikan kewajiban kepada Allah Swt., kemudian hamba itu mau bertaubat kepada Allah Swt. Bagi hamba yang berdosa, Allah Swt. adalah Yang Maha Pengampun. Dia akan mengampuni seberapa pun besar dosa hamba-Nya selama ia tidak meragukan kasih sayang dan kemurahan-Nya.

Menurut imam al-Gazali, al-Karim adalah Dia yang apabila berjanji, menepati janjinya, bila memberi, melampaui batas harapan, tidak peduli berapa dan kepada siapa Dia memberi dan tidak rela bila ada kebutuhan dia memohon kepada selain-Nya, meminta kepada orang lain. Dia yang bila kecil hati menegur tanpa berlebih, tidak mengabaikan siapa yang menuju dan berlindung kepada-Nya, dan tidak membutuhkan sarana atau perantara.
3)   Allah s.w.t Maha Pemurah.
4)   Allah s.w.t memberi tanpa diminta.
5)    Allah s.w.t memberi sebelum diminta.
6)   Allah s.w.t memberi apabila diminta.
7)   Allah s.w.t memberi bukan kerana permintaan, tetapi cukup sekadar harapan, cita-cita dan angan-angan hamba-hamba-Nya. Dia tidak mengecewakan harapan mereka.
8)   Allah s.w.t memberi lebih baik daripada apa yang diminta dan diharapkan oleh   para hamba-Nya.
9)   Allah Yang Maha Pemurah tidak kedekut dalam pemberian-Nya. Tidak dikira berapa banyak diberi-Nya dan kepada siapa Dia memberi.
10)     Paling penting, demi kebaikan hamba-Nya sendiri, Allah s.w.t memberi dengan bijaksana, dengan cara yang paling baik, masa yang paling sesuai dan paling bermanafaat kepada si hamba yang menerimanya.

Dalil-dalil tentang Al-karim
1)      Q.S al-Infitar ayat 6
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqKqk_wgQvpfddq-nhATvyTgws44n34Y5hJcpdsXhjX5CMze4liA8uValNonlnFXp03FnKE0EwfoFjiWmsHuUUFWi-Ya-8agkhhPZSGfJNGX5Up6KfA25ynnkY8QPmnhsakm6xDGsNdvA5/s1600/Q.S+al-Infitar.png
Artinya : "Hai manusia apakah yang telah memberdayakanmu terhadap Tuhan Yang Maha Pemurah?"
Al-Quran mengingatkan manusia supaya mengenang nikmat kebaikan dan kemurahan Allah al-Karim.
2)      Q.S ar-Rahmaan Ayat 13.
http://alhikam0.tripod.com/047b.JPG
Artinya : “Maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak  dustakan (wahai umat manusia dan jin)?”. Ayat di atas diulang sebanyak 31 kali dalam satu surah sahaja yaitu surah ar-Rahman. Wahai bangsa jin dan bangsa manusia yang dipikulkan tanggungjawab pengabdian kepada Allah s.w.t! Perhatikan nikmat, rahmat, kasihan belas dan kasih sayang-Nya, yang mana satu yang mahu kalian dustakan? Allah s.w.t menanyakan yang sama sebanyak 31 kali. Tiang Arasy bergegar sekiranya Allah s.w.t ajukan pertanyaan ini kepada para malaikat yang menanggung Arasy.

3)      Q.S Al-An’aam ayat 12

http://alhikam0.tripod.com/047d.JPG
 
Artinya : ‘Ia telah menetapkan atas diri-Nya  memberi rahmat.


4)      Q.S An-naml ayat 40

http://alhikam0.tripod.com/047f.JPG
Artinya : Berkata pula seorang yang mempunyai ilmu pengetahuan dari kitab Allah: “Aku akan membawanya kepadamu dalam sekelip mata!”  Setelah Nabi Sulaiman melihat singgahsana itu terletak di sisinya, berkatalah ia: “Ini ialah dari limpah kurnia Tuhanku, untuk mengujiku adakah aku bersyukur atau aku tidak mengenangkan nikmat pemberian-Nya. Dan (sebenarnya) sesiapa yang bersyukur maka faedah syukurnya itu hanyalah terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa yang tidak bersyukur (maka tidak menjadi masalah kepada Allah), kerana sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, lagi Maha Pemurah”.

Contoh-contoh perilaku Al-Karim

a.         Dengan meyakini bahwa Allah
SWT itu Maha Mulia, maka kita
akan senantiasa bersifat mulia dan
berbuat baik kepada siapa saja.

b.         Tidak pernah berbuat jahat kepada
orang lain.

c.         Menghiasi diri kita
dengan iman dan takwa sehingga
menjadi pribadi yang mulia.

d.        Sikap Nabi Ibrahim a.s yang sentiasa bergantung kepada al-Karim dan tidak kepada yang lain. Beliau a.s menolak pertolongan yang ditawarkan oleh malaikat Jibrail a.s. Beliau a.s yakin bahawa Allah al-Karim tidak akan membiarkannya. Penyerahan Nabi Ibrahim a.s kepada al-Karim tidak sia-sia.
http://alhikam0.tripod.com/047e.JPG

Kami berfirman: “Hai api, jadilah engkau sejuk serta selamat sejahtera atas Ibrahim!”. ( Ayat 69 : Surah Anbiyaa’ )

e.         orang yang dermawan pada sesama (shodaqoh).

b.  Al-mukmin
Pengertian Al-Mukmin
Al-mu'min secara bahasa berasal dari kata amina yang berarti pembenaran, ketenangan hati, dan aman. Allah SWT al-mu'min artinya Dia Maha Pemberi rasa aman kepada semua makhluknya, terutama manusia. Keamanan dan rasa aman yang kita peroleh tidak terlepas dari kekuasaan Allah. Ketenangan hati hanya didapat bila kita dekat dengan Allah, rajin membaca Al - Qur'an, rajin sholat, dan lain - lain. Ketidak nyamanan bukan hanya akibat ulah manusia tapi bisa juga karena binatang buas, bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor dan lain - lain. Ada orang yang merasa tidak aman walaupun situasinya aman dan tentram. Sebaliknya ada orang yang merasa, tenang, tidak gelisah walaupun situasi dan keadaan genting dan kacau. Allah adalah al-mu’min yang muthlaq, karena hanya kepada-Nyalah keamanan dapat diraih dan Dia adalah pencipta keamanan, baik didunia maupun di akhirat. Allah juga Maha tepercayadalam menepati janji-Nya. Allah SWT bernama Al-Mu’min yang artinya Yang Maha Memberikan Keamanan atau Yang maha Terpercaya karena dalam mencantumkan wa’dun/janji-janjinya pasti tidak mungkin diingkari, pasti ditepati.


DALIL NAQLI :
Al-An'am ayat 82

 الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

 Artinya : “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

DALIL AQLI :
Dalam hidup ini kita pasti menginginkan rasa aman dari bencana alam ataupun dari kejahatan manusia yang ada di dunia ini, dimana lagi kita meminta kecuali kepada Allah atau Allah SWT pasti memiliki sifat maha terpercaya tidak mungkin Allah SWT bersifat khianat.

PERILAKU YANG DAPAT DITELADANI :
Kita sebagai seorang muslim hendaknya selalu berusaha menjadi orang yang dipercaya dengan selalu bersifat jujur, tidak berdusta, selalu menjaga amanah, tidak berkhianat. Selain itu kita kita berusaha untuk memberikan rasa aman, membina kehidupan yang tenang dengan tidak membuat onar, perkelahian, pertengkaran, tawuran, dan segala bentuk perbuatan yang meresahkan masyarakat. ini merupakan pengaplikasian dari sifat Allah Al-Mu’min.


c.    Al-Matin
Pengertian Al-Matin
Makna “al-Matîin” adalah Yang Maha sangat kuat. Dia Maha Mampu memberlakukan perintah dan ketentuan-Nya kepada semua makhluk-Nya (tanpa ada satupun yang mampu menghalangi). Dia mampu memuliakan siapapun yang dikehendaki-Nya dan mampu menjadikan hina siapapun yang dikehendaki-Nya. Allâh Azza wa Jalla mampu menolong siapa yang dikehendaki-Nya serta tidak menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Allah SWT adalah Maha sempurna dalam kekuatan dan kekukuhan-Nya. Kekukuhan dalam prinsip sifat-sifatnya. Oleh karena itu, sifat Al-Matin adalah kehebatan perbuatan yang sangat kokoh dari kekuatan yang tidak ada taranya. Dengan begitu, kekukuhan Allah SWT yang memiliki rahmat dan adzab terbukti ketika Allah SWT memberikan rahmat kepada hamba-hambanya. Kekuatan dan kekukuhanya tidak terhingga dan tidak terbayangkan oleh manusia yang lemah dan tidak memiliki daya upaya. Jadi karena kekukuhanya, Allah SWT tidak terkalahkan dan tidak tergoyahkan. Siapakah yang paling kuat dan kukuh selain Allah SWT? Tidak ada satu makhluk pun yang dapat menundukan Allah SWT meskipun seluruh makhluk di bumi ini bekerjasama.

Dalil tentang Al-Matin

Allah SWT berfirman dalam surat Az-Zariyat ayat 58

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ


Artinya : “Sungguh Allah SWT, dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.”
Dengan demikian, hamba Al-Matin adalah hamba yang dikaruniai dan diberikan oleh Allah mengetahui rahasia sifat kekuatan dan kekukuhan Allah yang meliputi segala kekuatan. Hal tersebut membuatnya berpegang teguh pada tali agamanya. Dan tidak ada sesuatupun yang dapat membuatnya berpaling. Tidak ada kesuliatan yang melelahkannya, dan tidak ada yang dapat memisahkannya dari Yang Maha Benar. Dan, dalam membela kebenaran tidak ada seorangpun yang dapat mengancam atau membuatnya diam. Seorang hamba yang menemukan kekuatan dan kekukuhan Allah akan membuatnya menjadi manusia yang tawakal, memiliki kepercayaan dalam jiwanya dan tidak merasa rendah di hadapan manusia lain. Ia akan selalu merasa rendah di hadapan Allah. Hanya Allah yang maha menilai. Oleh karena itu, Allah melarang manusia bersikap atau merasa lebih dari saudaranya, karena hanya Allah yang Maha Mengetahui baik buruknya seorang hamba. Allah juga menganjurkan manusia bersabar, karena Allah Maha tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Akhlak kita terhadap sifat Al-Matin adalah :

Ø Beristiqamah (meneguhkan pendirian).
Ø Beribadah dengan kesungguhan hati, tidak tergoyahkan oleh bisikan menyesatkan.
Ø Terus berusaha dan tidak putus asa, serta bekerjasama dengan orang lain sehingga menjadi lebih kuat.
Ø kuat pendirian dan keteguhan hati, tidak mudah diberikan tipu daya.

d.   Al-Akhir

Al Akhir artinya yang maha akhir yang tidak ada sesuatupun setelah Allah SWT. Dia Maha Kekal tatkala semua makhluk hancur, maha kekal dengan kekekalan-Nya. Adapun kekekalan makhluknya adalah kekekalan yang terbatas, seperti halnya kekekalan surga, neraka, dan apa yang ada di dalamnya. Surga adalah makhluk yang Allah SWT ciptakan dengan ketentuan, kehendak, dan perintahnya.

Dalil Al-Akhir

Nama ini disebutkan di dalam firman-Nya Q.S AL-Hadid ayat 3

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖوَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya : “Dialah Yang Awal dan Akhir Yang Zahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala seuatu.”

Sebagai Dzat Yang Maha Akhir, Allah SWT akan tetap abadi dan kekal. Keabadian dan kekekalan Allah SWT tersebut menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya tempat bergantung atas segala urusan kita, baik urusan di dunia maupun urusan-urusan yang akan kita bawa sampai ke akhirat kelak. Sungguh sangat merugi orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada selain Allah. Karena sesungguhnya setiap yang ada di langit dan bumi ini akan hancur. Akan tetapi jika kita bersandar penuh pada Sang Maha Kekal, pastinya kita tidak akan hancur dan terjerumus dalam kesesatan.

Apa yang dimiliki oleh hamba-hamba NYA, baik yang bersifat material dan spiritual adalah milik Allah dan akan kembali kepada-NYA. Dan Mahluk-makhluk NYA akan mempertanggung jawabkan bagaimana kita menggunakan dan menjaga apa yang telah dipinjamkan Allah kepada kita selama kita hidup. Hamba yang bertanggung jawab, melakukan perbuatannya dari awal hingga akhir karena ALlah SWT dan demi keridhoan-NYA semata. Orang yang menegaskan al-Akhir akan menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan hidup yang tiada tujuan hidup selain-Nya, tdak ada permintaan selain-Nya, dan segala kesudahan tertuju hanya kepada-Nya.

Meneladani sifat ini berarti kita menyadari bahwa tujuan akhir kita adalah kembali kepada Allah SWT . Karenanya kita harus menyiapkan bekal menempuh hari akhir dengan berbuat amal saleh.

e.    Al-Jami’

Pengertian Al-Jami’

Jami’ berasal dari kata jama’ah yang artinya kumpulan, lebih dari satu, banyak. Al-Jami’ secara bahasa artinya Yang Maha Mengumpulkan / Menghimpun, yaitu bahwa Allah SWT Maha Mengumpulkan/Menghimpun segala sesuatu yang tersebar atau terserak. Allah SWT Maha Mengumpulkan apa yang dikehendaki-Nya dan di manapun Allah SWT berkehendak. Penghimpunan ini ada berbagai macam bentuknya, diantaranya adalah mengumpulkan seluruh makhluk yang beraneka ragam, termasuk anusia dan lain-lainya, di permukaan bumi ini dan kemudian mengumpulkan mereka di padang Mahsyar pada hari kiamat.

Dalil Al-Jami’

Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran ayat 9

 رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Artinya : “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan maniusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya.” Sesungguhnya Allah SWT tidak menyalahi janji.”

Kemampuan Allah SWT untuk mengumpulkan segala sesuatu tersebut menandakan bahwa Allah adalah Dzat yang sangat luar biasa, yang tidak ada tandingannya di dunia ini. Ini merupakan salah satu bukti bahwa kekuasaan Allah SWT adalah mutlak. Karena Allah mempunyai asma Al-Jami’, isi alam semesta ini yang berupa ruang angkasa, galaksi, gugusan bintang, bumi, lautan, tumbuhan, hewan, manusia, dan makhluk lainnya dapat terkumpul dengan tertib dan rapi. Benda-benda di langit dan di bumi mampu terkumpul dan beredar sesuai dengan tugasnya masing-masing atas perintah Allah SWT. Manusia dikelompokkan dengan suku-suku dan bangsa-bangsa tertentu, sedangkan tumbuhan dan hewan dikelompokkan dari kingdom sampai spesies tertentu. Begitu juga dengan makhluk-makhluk lain seperti jin, iblis, dan malaikat. Allah SWT yang mempunyai asma Al-Jami’ mampu mengumpulkan jin-jin, para iblis, dan para malaikat sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Dia juga mampu mengumpulkan tulang, urat, keringat, darah, otot, dan organ-organ lainnya hingga terhimpun menjadi makhluk yang sempurna seperti manusia.
Ada dua pelajaran yang dapat kita petik dari asma Allah al-Jami’. Pertama Allah akan mengumpulkan kita nanti pada hari Akhir. Kedua, sebagai khalifah, wakil yang dipercaya Allah untuk mengatur kehidupan alam semesta ini. Kita harus membumikan al-Jami’ dalam kehidupan. Kita harus menjadi katalisator untuk terbentuknya persatuan dan kesatuan mahkluk-makhluk Allah sehingga menjadi satu kesatuan sIstem kehidupan yang harmonis dan saling membutuhkan. contoh perilaku yang dapat diteladani yaitu seperti menjadi pemimpin, mempersatukan orang yang sedang berselisih, hidup bermasyarakat, dll.

f.     Al-‘Adl

Pengertian Al-‘Adl

Al-'Adl artinya Maha Adil. Al-‘Adl bearasal dari kata ‘adala yang berarti lurus dan sama. Keadillan Allah SWT bersifat mutlak, tidak dipengaruhi oleh apapun dan oleh siapapun. Keadilan Allah SWT juga didasari dengan ilmu Allah SWT yang Maha Luas. Sehingga tidak mungkin keputusan-Nya itu salah. Alloh adalah Pencipta segala keindahan dan keburukan, kebaikan, dan kejahatan. Allah SWT bersifat adil pada ciptaan-Nya, dalam hal ini ada rahasia yang sulit dimengerti. Tetapi setidak-tidaknya, kita memahami bahwa seringkali orang harus mengenal lawan kata dari sesuatu untuk memahaminya. Orang yang tidak pernah merasakan kesedihan, tidak akan mengenal kebahagiaan. Jika tidak ada yang buruk, kita tidak akan mengenal keindahan. Baik dan buruk sama pentingnya. Alloh menunjukkan yang satu dengan yang lain, yang benar dengan yang salah, dan menunjukkan kepada kita akibat dari masing-masingnya. Dia memperlihatkan pahala sebagai lawan kata dari siksaan. Lalu dipersilakan-Nya kita untuk menggunakan penilaian kita sendiri. Sesuai dengan takdirnya, masing-masing mendapatkan keselamatan dalam penderitaan dan rasa sakit, atau kutukan dalam kekayaan. Alloh mengetahui apa yang terbaik bagi makhluk-Nya. Hanya Alloh yang mengetahui nasib kita. Perwujudan dari nasib itu adalah keadilan-Nya.

Dalil Al-‘Adl
                                                                                    
Allah SWT berfirman dalam surat Al-An’am ayat 115

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلا لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya : “Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur'an, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Orang yang adil adalah orang yang berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ukuran ganda. Persamaan inilah yang menunjukan orang yang adil tidak berpihak kepada salah seorang yang berselisih. dan seorang yang adil selalu berpihak kepada yang benar, karena baik yang benar maupun yang salah sama-sama harus memperoleh haknya. Maka orang yang adil akan melakukan sesuatu yang patut, tidak sewenang-wenang dan berusaha memutuskan perkara secara adil sesuai hukum yang berlaku, tidak memihak kepada siapapun dalam memutuskan suatu perkara, membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Adil juga dimaknai sebagai penempatan sesuatu pada tempat yang semestinya.

Perilaku yang dapat diteladani :

Ø  Yang pertama Adil terhadap Allah Ta’ala, yaitu dengan tidak berbuat syirik dalam beribadah kepada-Nya, mengimani nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, menaati-Nya dan tidak bermaksiat kepada-Nya, senantiasa berdzikir dan tidak melupakan-Nya serta mensyukuri nikmat-nikmatNya dan tidak mengingkarinya.
Ø  Yang kedua Adil terhadap sesama manusia, yaitu dengan memberikan hak-hak mereka dengan sempurna tanpa menzhaliminya, sesuai dengan apa yang menjadi haknya.
Ø  Yang ketiga Adil terhadap keluarga (anak dan istri), yaitu dengan tidak melebihkan dan mengutamakan salah seorang di antara mereka atas yang lainnya atau kepada sebagian atas sebagian yang lainnya.
Ø  Yang keempat Adil dalam perkataan, yaitu dengan berkata baik dan jujur tidak berdusta, berkata kasar, bersumpah palsu, mengghibah saudara seiman dan lain-lain.
Ø  Yang kelima Adil dalam berkeyakinan, yaitu dengan meyakini perkara-perkara yang disebutkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih dengan keyakinan yang pasti tanpa keraguan sedikitpun dan tidak meyakini hal-hal yang tidak benar yang menyelisihi keduanya.
Ø  Yang keenam Adil dalam menetapkan hukum dan memutuskan perselisihan yang terjadi antara sesama manusia, yaitu dengan menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber hukum dan pemutus perkara tersebut.

g.    Al-Wakil

Pengertian Al-Wakil

Kata Al-wakil mengandung arti Maha Mewakili atau Pemelihara. Al-Wakil yaitu Allah SWT yang memelihara dan mengurusi segala kebutuhan makhluk-Nya, baik itu dalam urusan dunia maupun urusan akhirat.
Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 62

 اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Artinya : “Allah SWT pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.”

Hamba Al-Wakil adalah yang bertawakkal kepada Allah SWT. Menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT melahirkan sikap Tawakal. Tawakal bukan berarti mengabaikan sebab-sebab dari suatu kejadian. Berdiam diri dan tidak peduli terhadap sebab itu dan akibatnya adalah sikap malas. Ketawakkalan dapat diibaratkan dengan menyadari sebab-akibat. Orang harus berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkanya. Rosululloh SAW bersabda “Ikatlah untamu dan bertawakkalah kepada Allah SWT.” Manusia harus menyadari bahwa semua usahanya adalah doa yang aktih dan harapan akan adanya pertolongan-Nya.

Dalil Al-Wakil

Allah SWT berfirman dalam surat Al-An’am ayat 102

ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لا إِلَهَ إِلا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
Artinya : “(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah SWT Tuhan kamu; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.”

Contoh perilaku yang dapat diteladani dari Sifat Al-Wakiil adalah kita harus berusaha keras dalam mengerjakan sesuatu. Setelah itu kita tawakal (menyerahkan hasilnya kepada Allah). Niscaya Allah akan memberikan hasil yang baik.

Manfaat jika kita meneladani Asmaul Husna Al-Wakil ialah :
Kita menjadi takut untuk melakukan perbuatan buruk. Kita menjadi orang yang selalu ingin berbuat baik. Dan kita selalu ingin beribadah kepada Allah swt.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar