A. Pengertian
Al-karim
1)
Secara bahasa, al-karim mempunyai arti Yang Mahamulia, Yang Maha
Dermawan atau Yang Maha Pemurah. Secara Istilah, al-Karim diartikan bahwa Allah
Swt. Yang Mahamulia lagi Maha Pemurah yang memberi anugerah atau rezeki kepada
semua makhluk-Nya. Dapat pula dimaknai sebagai Zat yang sangat banyak memiliki
kebaikan, Maha Pemurah, Pemberi Nikmat dan Keutamaan, baik ketika diminta
maupun tidak.
Al-Karim dimaknai Maha Pemberi karena Allah Swt. senantiasa
memberi, tidak pernah terhenti pemberian-Nya. Manusia tidak oleh berputus asa
dari kedermawanan Allah Swt. Jika miskin dalam harta, karena kedermawanan-Nya
tidak hanya dari harta yang dititipkan melainkan meliputi segala hal.
Manusia
yang yang diberikan harta melimpah maupun tidak berharta dan dermawan hendaklah
tidak sombong jika telah memiliki sifat dermawan karena Allah Swt. tidak
menyukai kesombongan. Dengan demikian, bagi orang dianugrahi harta oleh Allah
Swt., keduanya harus bersyukur kepada-Nya karena orang yang miskin pun telah
diberikan nikmat selain harta.
2)
Maha
Pemberi Maaf
Al-Karim juga dimaknai
Yang Maha Pemberi Maaf karena Allah Swt. memaafkan dosa para hamba yang lalai
dalam menunaikan kewajiban kepada Allah Swt., kemudian hamba itu mau bertaubat
kepada Allah Swt. Bagi hamba yang berdosa, Allah Swt. adalah Yang Maha
Pengampun. Dia akan mengampuni seberapa pun besar dosa hamba-Nya selama ia
tidak meragukan kasih sayang dan kemurahan-Nya.
Menurut imam al-Gazali,
al-Karim adalah Dia yang apabila berjanji, menepati janjinya, bila memberi,
melampaui batas harapan, tidak peduli berapa dan kepada siapa Dia memberi dan
tidak rela bila ada kebutuhan dia memohon kepada selain-Nya, meminta kepada
orang lain. Dia yang bila kecil hati menegur tanpa berlebih, tidak mengabaikan
siapa yang menuju dan berlindung kepada-Nya, dan tidak membutuhkan sarana atau
perantara.
3) Allah s.w.t Maha Pemurah.
4) Allah s.w.t memberi tanpa diminta.
5) Allah s.w.t memberi sebelum
diminta.
6) Allah s.w.t memberi apabila diminta.
7) Allah s.w.t memberi bukan kerana
permintaan, tetapi cukup sekadar harapan, cita-cita dan angan-angan
hamba-hamba-Nya. Dia tidak mengecewakan harapan mereka.
8) Allah s.w.t memberi lebih baik
daripada apa yang diminta dan diharapkan oleh para hamba-Nya.
9) Allah Yang Maha Pemurah tidak
kedekut dalam pemberian-Nya. Tidak dikira berapa banyak diberi-Nya dan kepada
siapa Dia memberi.
10) Paling penting, demi kebaikan hamba-Nya
sendiri, Allah s.w.t memberi dengan bijaksana, dengan cara yang paling baik,
masa yang paling sesuai dan paling bermanafaat kepada si hamba yang
menerimanya.
B. Dalil-dalil
tentang Al-karim
1)
Q.S
al-Infitar ayat 6
Artinya : "Hai manusia apakah yang telah memberdayakanmu
terhadap Tuhan Yang Maha Pemurah?"
2)
Al-Quran
mengingatkan manusia supaya mengenang nikmat kebaikan dan kemurahan Allah
al-Karim.
Q.S ar-Rahmaan Ayat 13.
Artinya : “Maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang
kamu hendak dustakan (wahai umat manusia dan jin)?”. Ayat
di atas diulang sebanyak 31 kali dalam satu surah sahaja yaitu surah ar-Rahman.
Wahai bangsa jin dan bangsa manusia yang dipikulkan tanggungjawab pengabdian
kepada Allah s.w.t! Perhatikan nikmat, rahmat, kasihan belas dan kasih
sayang-Nya, yang mana satu yang mahu kalian dustakan? Allah s.w.t menanyakan
yang sama sebanyak 31 kali. Tiang Arasy bergegar sekiranya Allah s.w.t ajukan
pertanyaan ini kepada para malaikat yang menanggung Arasy.
3)
Q.S
Al-An’aam ayat 12
Artinya : ‘Ia telah
menetapkan atas diri-Nya memberi rahmat.
4)
Q.S
An-naml ayat 40
Artinya : Berkata pula
seorang yang mempunyai ilmu pengetahuan dari kitab Allah: “Aku akan membawanya
kepadamu dalam sekelip mata!” Setelah Nabi Sulaiman melihat singgahsana
itu terletak di sisinya, berkatalah ia: “Ini ialah dari limpah kurnia Tuhanku,
untuk mengujiku adakah aku bersyukur atau aku tidak mengenangkan nikmat
pemberian-Nya. Dan (sebenarnya) sesiapa yang bersyukur maka faedah syukurnya
itu hanyalah terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa yang tidak bersyukur
(maka tidak menjadi masalah kepada Allah), kerana sesungguhnya Tuhanku Maha
Kaya, lagi Maha Pemurah”.
C.
Contoh-contoh
perilaku Al-Karim
1)
Dengan
meyakini bahwa Allah
SWT itu Maha Mulia, maka kita
akan senantiasa bersifat mulia dan
berbuat baik kepada siapa saja.
SWT itu Maha Mulia, maka kita
akan senantiasa bersifat mulia dan
berbuat baik kepada siapa saja.
2)
Tidak
pernah berbuat jahat kepada
orang lain.
orang lain.
3)
Menghiasi diri kita
dengan iman dan takwa sehingga
menjadi pribadi yang mulia.
dengan iman dan takwa sehingga
menjadi pribadi yang mulia.
4)
Sikap
Nabi Ibrahim a.s yang sentiasa bergantung kepada al-Karim dan tidak kepada yang
lain. Beliau a.s menolak pertolongan yang ditawarkan oleh malaikat Jibrail a.s.
Beliau a.s yakin bahawa Allah al-Karim tidak akan membiarkannya. Penyerahan
Nabi Ibrahim a.s kepada al-Karim tidak sia-sia.
Kami berfirman: “Hai api, jadilah engkau sejuk
serta selamat sejahtera atas Ibrahim!”. ( Ayat 69 : Surah Anbiyaa’ )
5)
orang
yang dermawan pada sesama (shodaqoh).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar