Minggu, 21 Oktober 2018

ASMAUL HUSNA AL-KARIM


ASMAUL HUSNA
AL-KARIM
A.      Pengertian Al-karim
1)        Secara bahasa, al-karim mempunyai arti Yang Mahamulia, Yang Maha Dermawan atau Yang Maha Pemurah. Secara Istilah, al-Karim diartikan bahwa Allah Swt. Yang Mahamulia lagi Maha Pemurah yang memberi anugerah atau rezeki kepada semua makhluk-Nya. Dapat pula dimaknai sebagai Zat yang sangat banyak memiliki kebaikan, Maha Pemurah, Pemberi Nikmat dan Keutamaan, baik ketika diminta maupun tidak.
Al-Karim dimaknai Maha Pemberi karena Allah Swt. senantiasa memberi, tidak pernah terhenti pemberian-Nya. Manusia tidak oleh berputus asa dari kedermawanan Allah Swt. Jika miskin dalam harta, karena kedermawanan-Nya tidak hanya dari harta yang dititipkan melainkan meliputi segala hal.
Manusia yang yang diberikan harta melimpah maupun tidak berharta dan dermawan hendaklah tidak sombong jika telah memiliki sifat dermawan karena Allah Swt. tidak menyukai kesombongan. Dengan demikian, bagi orang dianugrahi harta oleh Allah Swt., keduanya harus bersyukur kepada-Nya karena orang yang miskin pun telah diberikan nikmat selain harta.

2)        Maha Pemberi Maaf
Al-Karim juga dimaknai Yang Maha Pemberi Maaf karena Allah Swt. memaafkan dosa para hamba yang lalai dalam menunaikan kewajiban kepada Allah Swt., kemudian hamba itu mau bertaubat kepada Allah Swt. Bagi hamba yang berdosa, Allah Swt. adalah Yang Maha Pengampun. Dia akan mengampuni seberapa pun besar dosa hamba-Nya selama ia tidak meragukan kasih sayang dan kemurahan-Nya.

Menurut imam al-Gazali, al-Karim adalah Dia yang apabila berjanji, menepati janjinya, bila memberi, melampaui batas harapan, tidak peduli berapa dan kepada siapa Dia memberi dan tidak rela bila ada kebutuhan dia memohon kepada selain-Nya, meminta kepada orang lain. Dia yang bila kecil hati menegur tanpa berlebih, tidak mengabaikan siapa yang menuju dan berlindung kepada-Nya, dan tidak membutuhkan sarana atau perantara.
3)   Allah s.w.t Maha Pemurah.
4)   Allah s.w.t memberi tanpa diminta.
5)    Allah s.w.t memberi sebelum diminta.
6)   Allah s.w.t memberi apabila diminta.
7)   Allah s.w.t memberi bukan kerana permintaan, tetapi cukup sekadar harapan, cita-cita dan angan-angan hamba-hamba-Nya. Dia tidak mengecewakan harapan mereka.
8)   Allah s.w.t memberi lebih baik daripada apa yang diminta dan diharapkan oleh   para hamba-Nya.
9)   Allah Yang Maha Pemurah tidak kedekut dalam pemberian-Nya. Tidak dikira berapa banyak diberi-Nya dan kepada siapa Dia memberi.
10)     Paling penting, demi kebaikan hamba-Nya sendiri, Allah s.w.t memberi dengan bijaksana, dengan cara yang paling baik, masa yang paling sesuai dan paling bermanafaat kepada si hamba yang menerimanya.

B.     Dalil-dalil tentang Al-karim
1)        Q.S al-Infitar ayat 6
Artinya : "Hai manusia apakah yang telah memberdayakanmu terhadap Tuhan Yang Maha Pemurah?"
2)        Al-Quran mengingatkan manusia supaya mengenang nikmat kebaikan dan kemurahan Allah al-Karim.
Q.S ar-Rahmaan Ayat 13.
Artinya : “Maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak  dustakan (wahai umat manusia dan jin)?”. Ayat di atas diulang sebanyak 31 kali dalam satu surah sahaja yaitu surah ar-Rahman. Wahai bangsa jin dan bangsa manusia yang dipikulkan tanggungjawab pengabdian kepada Allah s.w.t! Perhatikan nikmat, rahmat, kasihan belas dan kasih sayang-Nya, yang mana satu yang mahu kalian dustakan? Allah s.w.t menanyakan yang sama sebanyak 31 kali. Tiang Arasy bergegar sekiranya Allah s.w.t ajukan pertanyaan ini kepada para malaikat yang menanggung Arasy.

3)        Q.S Al-An’aam ayat 12

Artinya : ‘Ia telah menetapkan atas diri-Nya  memberi rahmat.







4)        Q.S An-naml ayat 40

Artinya : Berkata pula seorang yang mempunyai ilmu pengetahuan dari kitab Allah: “Aku akan membawanya kepadamu dalam sekelip mata!”  Setelah Nabi Sulaiman melihat singgahsana itu terletak di sisinya, berkatalah ia: “Ini ialah dari limpah kurnia Tuhanku, untuk mengujiku adakah aku bersyukur atau aku tidak mengenangkan nikmat pemberian-Nya. Dan (sebenarnya) sesiapa yang bersyukur maka faedah syukurnya itu hanyalah terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa yang tidak bersyukur (maka tidak menjadi masalah kepada Allah), kerana sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, lagi Maha Pemurah”.

C.       Contoh-contoh perilaku Al-Karim

1)        Dengan meyakini bahwa Allah
SWT itu Maha Mulia, maka kita
akan senantiasa bersifat mulia dan
berbuat baik kepada siapa saja.

2)        Tidak pernah berbuat jahat kepada
orang lain.

3)        Menghiasi diri kita
dengan iman dan takwa sehingga
menjadi pribadi yang mulia.

4)        Sikap Nabi Ibrahim a.s yang sentiasa bergantung kepada al-Karim dan tidak kepada yang lain. Beliau a.s menolak pertolongan yang ditawarkan oleh malaikat Jibrail a.s. Beliau a.s yakin bahawa Allah al-Karim tidak akan membiarkannya. Penyerahan Nabi Ibrahim a.s kepada al-Karim tidak sia-sia.

Kami berfirman: “Hai api, jadilah engkau sejuk serta selamat sejahtera atas Ibrahim!”. ( Ayat 69 : Surah Anbiyaa’ )

5)        orang yang dermawan pada sesama (shodaqoh).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar